Ibrah yang sangat dalam

Belum lewat dua bulan sejak menjanjikan kepada para pejuang Hudaibiyah akan memberikan fat’han qariiban ‘kemenangan yang dekat’ dan harta rampasan perang yang banyak, ternyata benteng-benteng Khaibar dengan segala isinya berupa bermacam-macam harta kekayaan telah jatuh ke tangan kaum muslimin . Takdir Allah agaknya menghendaki agar para pejuang Hudaibiyah itu tidak disekutui orang lain dalam memperoleh harta dari Khaibar itu. Ya begitulah, kecuali beberapa orang wanita dan beberapa orang tamu yang baru datang dari Yaman dan Habasyah.
Kesusahan, kelaparan, dan kemiskinan yang dialami kaum muslimin dalam perang ini sudah sedemikian rupa sehingga mereka menyembelih keledai-keledai piaraan, bahkan telah memasak periuk-periuk diatas tungku api, hingga datang petugas Rosululloh saw. Yang menyerukan  “Sesungguhnya , Rosululloh melarang kamu sekalian memakan keledai peliharaannya…”
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin amr bin dhamrah telah bercerita kepadanya, dari Abdullah bin abi salith dari ayahnya, dia berkata, “larangan Rosulullah SAW. Untuk memakan daging keledai peliharaan itu datang kepada kami dikala periuk-periuk telah mendidih berisi daging. Periuk-periuk itu langsung kami tengkurapkan.”
   Sungguh, itu adalah ujian berat yang tiada tara, tanpa diragukan lagi, yaitu saat kaum muslimin tengah menahan lapar dengan menggigitkan erat-erat gigi-gigi geraham mereka. Sementara itu, tidak ada makanan apapun pada mereka, bahkan sebiji kurma pun tidak, sedangkan mereka harus bertahan di tengah medan perang yang ganas melawan kaum Yahudi . Tidak ada waktu untuk tidur atau istirahat sejenak dalam kemah. Karenanya, di sembelihlah oleh mereka beberapa ekor keledai dan langsung dimasak. Sejurus kemudian, mengalirlah air liur mereka, membayangkan betapa cita rasa nya daging keledai, sementara periuk-periuk telah mendidih berisi daging yang segera siap di santap. Tiba-tiba datanglah larangan Nabi SAW. Untuk memakan daging keledai peliharaan. Walaupun demikian, sedikitpun mereka tidak ragu ataupun merasa keberatan sehingga mencabut senjata, apalagi kemudian lari dari barisan  meninggalkan medan perang, atau bahkan meneruskan suapan yang terlanjur masuk mulut lalu barulah berhenti sesudah itu, atau sekedar mencicipi agar hilang kelelahan mereka. Tidak, semua itu tidak mereka lakukan. Mereka bahkan langsung membalikan periuk-periuk itu dengan seluruh isinya lalu mereka memenuhi perintah Allah dan Rosul-Nya.
Semua itu adalah pelajaran nyata, tanpa diragukan lagi, tentang betapa teguh dan disiplinnya mereka dalam mematuhi segala perintah, yang sulit maupun yang mudah, dalam keadaan suka ataupun tidak suka. Seorang Muslim itu senantiasa melepaskan diri dari dominasi perutnya meskipun berada dipuncak kelaparan dan harus berperang. Sungguh, itulah tingkat ketangguhan mental yang sangat tinggi. Apabila kita dapat meraihnya pastilah qt dapat meraih kemenangan dari Allah.
Sebenarnya, Rasulullah SAW . bisa saja melarang memakan daging keledai peliharaan itu sebelum disembelih atau langsung sesudahnya, sebelum capek-capek memasaknya, dengan cara mengumpulkan kayu bakar dan meniup api dalam tungku. Akan tetapi, agar ujian itu mencapai targetnya yang terjauh, Allah ta’ala menghendaki agar larangan itu baru disampaikan pada saat periuk-periuk itu telah mendidih berisi daging-daging keledai. Dengan demikian menjadi jelaslah betapa tinggi ketangguhan mereka, sekalipun dikala keadaan yang paling sulit. Barang siapa yang didalam kondisi seperti ini tetap konsisten, dia pasti mampu melakukan hal yang sama dalam kondisi yang ringan.

Advertisements